Warakas, Tanjung Priok, Jakarta _ faktatajam.com Utara, biasanya bangun pelan-pelan setiap pagi. Suara motor ojek, pintu warung yang digeser, dan aroma nasi uduk yang mengepul di gang-gang sempit. Rumah kontrakan keluarga Siti Solihah berada di salah satu gang itu—sederhana, berdinding pucat, dan nyaris tak pernah terdengar ribut.
Di rumah itu tinggal seorang ibu dan empat anaknya. Siti Solihah, perempuan 50 tahun yang dikenal tegas, hidup bersama anak-anaknya: Afiah Al Abdilah Jamaludin (28), MK (24), Abdullah Syauqi Jamaludin (23), dan si bungsu AA (14). Mereka bukan keluarga kaya, tapi tetangga tahu mereka cukup rukun. Setidaknya, itulah yang terlihat dari luar.
Tak ada yang tahu bahwa di dalam rumah itu, dendam tumbuh pelan seperti jamur di sudut tembok yang lembap.
Pada suatu hari, Syauqi keluar rumah seperti biasa. Wajahnya datar. Tak ada yang mencurigakan. Ia berjalan ke warung, membeli sesuatu yang terlihat sepele: racun tikus.
Barang kecil itu dimasukkannya ke dalam saku, lalu ia pulang.
Di rumah, suasana tenang. Ibunya mungkin sedang mengurus sesuatu, kakaknya beristirahat, adiknya di kamar. Syauqi masuk dapur, menaruh panci di atas kompor, dan merebus teh. Uap panas mengepul, membawa aroma manis yang biasa menenangkan.
Namun hari itu, aroma teh bercampur dengan niat yang gelap.
Setelah para korban dibuat pingsan, Syauqi mengambil racun tikus itu. Zat yang di dalamnya mengandung zinc phosphate. Ia menuangkannya ke dalam panci berisi teh yang sudah mendidih. Racun itu larut tanpa warna mencolok, tanpa bau yang mengkhianati.
Teh itu lalu dituangkan ke dalam cangkir.
Syauqi berjalan ke kamar, satu per satu. Tangannya menyuapkan teh beracun itu ke mulut mereka yang tak berdaya, yang terlelap tanpa tahu apa yang sedang terjadi.
Ibunya. Kakaknya. Adiknya yang masih remaja.
Tak ada teriakan. Tak ada perlawanan. Hanya sunyi yang menyaksikan.
Racun itu bekerja pelan. Di dalam lambung, zinc phosphate berubah menjadi gas beracun yang menyebar ke seluruh organ tubuh. Racun seluler, kata para ahli nanti. Racun yang mematikan dari dalam.
Dan pagi itu, sunyi berubah menjadi kepanikan.
MK, anak kedua, menemukan tubuh keluarganya tergeletak di rumah. Ia melihat ibunya, kakaknya, dan adiknya tak bergerak. Di kamar mandi, ia juga menemukan Syauqi terbaring lemas.
Tangis, teriakan, dan langkah kaki tetangga memenuhi rumah kecil itu. Polisi datang. Garis kuning dipasang. Warga berkerumun, berbisik-bisik, tak percaya.
Tiga orang meninggal dalam satu rumah.
Kasus itu membuat gempar warga. Tak ada luka di tubuh korban. Tak ada tanda kekerasan. Semua terlihat seperti kematian yang sunyi dan misterius.
Polisi melakukan visum luar. Autopsi. Tes toksikologi. Barang bukti dikumpulkan. Saksi-saksi diperiksa. Semua berjalan dengan metode scientific crime investigation.
Syauqi, yang awalnya dianggap saksi kunci, dirawat di rumah sakit cukup lama. Polisi menunggu hingga kondisinya pulih.
Hari demi hari berlalu. Sebulan hampir terlewati.
Akhirnya, pada 4 Februari, hasil laboratorium keluar. Dari lambung korban ditemukan zinc phosphate—racun tikus yang mematikan. Semua bukti mengarah pada satu nama.
Syauqi.
Ia diperiksa polisi. Tes kejiwaan dilakukan. Hasilnya: tidak ada gangguan jiwa berat. Namun ia memiliki pola penyelesaian masalah yang tidak adaptif, dengan dorongan agresif.
Dan yang paling mengerikan, ia mengaku.
Ia merencanakan semuanya.
Motifnya sederhana, tapi menusuk: dendam. Ia merasa diperlakukan berbeda, sering dimarahi oleh ibunya. Luka batin itu disimpannya lama, sampai akhirnya meledak dalam bentuk yang tak terbayangkan.
Seorang anak, meracuni ibu, kakak, dan adiknya sendiri.
Kini ia ditetapkan sebagai tersangka, dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hingga 20 tahun penjara.
Rumah kontrakan itu kini sepi. Pintu tertutup, jendela berdebu, dan tak ada lagi suara sendok beradu dengan piring. Gang itu kembali seperti biasa, tapi warga tak pernah benar-benar lupa.
Karena mereka tahu, tragedi itu bukan datang dari orang asing. Bukan dari perampok. Bukan dari penjahat jalanan.
Ia datang dari dalam rumah itu sendiri.
Dari seorang anak yang seharusnya dilindungi—dan melindungi.
Pesan Moral
Dendam yang dipendam tanpa jalan keluar dapat berubah menjadi racun yang lebih mematikan dari zat kimia apa pun. Komunikasi, empati, dan perhatian dalam keluarga bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi yang menjaga hati agar tidak retak. Karena ketika luka batin dibiarkan membusuk, ia bisa berubah menjadi tragedi yang tak dapat di hindari
Jaga keluarga kita
(Red/Fakta Tajam)