Gambar Ilustrasi
Karawang | Faktatajam.com Hingar bingar pelaksanaan Musyawarah Kabupaten (Mukab) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Karawang pada Rabu (15/4/2026) justru menimbulkan ironi yang mendalam. Di tengah gegap gempita acara yang digelar di dua tempat berbeda, yakni di Hotel Mercure Karawang dan Resinda Hotel, muncul sorotan tajam dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dualisme KADIN yang terjadi saat ini bukan hanya menjadi konsumsi elite organisasi, tetapi juga berdampak pada kepercayaan publik, khususnya para pelaku usaha kecil yang selama ini menggantungkan harapan pada KADIN sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Sejumlah pelaku UMKM mengaku melihat situasi ini dengan sinis. Mereka menilai, organisasi yang seharusnya menjadi wadah pemersatu dan pembina dunia usaha justru terjebak dalam konflik internal yang mempertontonkan kemegahan dan ego sektoral.
“Harusnya KADIN itu jadi contoh, jadi penggerak ekonomi rakyat. Tapi yang terlihat sekarang malah saling menunjukkan kekuatan dan kemewahan,” ungkap salah satu pelaku UMKM di Karawang yang enggan disebutkan namanya.
Pelaksanaan Mukab yang berlangsung di dua lokasi berbeda, dengan waktu dan hari yang sama, semakin mempertegas adanya perpecahan yang belum menemukan titik temu. Kondisi ini dinilai berpotensi melemahkan peran strategis KADIN dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di sektor UMKM.
Padahal, di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, UMKM membutuhkan pendampingan, akses permodalan, serta jaringan pasar yang kuat peran yang seharusnya dapat difasilitasi oleh KADIN secara optimal.
Alih-alih menjadi solusi, dualisme ini justru dinilai memperlihatkan egoisme kelompok yang lebih mengedepankan kepentingan masing-masing dibandingkan kepentingan bersama.
Situasi ini tentu menjadi catatan serius bagi semua pihak, terutama para pemangku kepentingan di tubuh KADIN, agar segera melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi demi mengembalikan marwah organisasi.
Terlepas dari polemik yang terjadi, masyarakat dan pelaku usaha berharap KADIN Karawang dapat kembali ke khitahnya sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, diharapkan tidak ada lagi konflik yang justru merugikan pelaku usaha kecil, melainkan langkah nyata yang mampu memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat luas.
(Lenie Tanjung)